Kamis, 25 Juni 2009

makalah kontruktivisme

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penelitian pendidikan sains pada dua tahun terakhir ini telah menunjukkan suatu pergeseran kea rah paradigm konstruktivis. Penelitian dalam bidang sains beranggapan bahwa “ suatu penelitian baru dianggap sah dan dapat dipublikasikan bila mencerminkan paradigm tersebut “.
Konstruktivisme mempengaruhi banyak studi tentang pegertian dan pengertian alternative dalam bidang sains dan matematika. Banyak cara belajar mengajar di sekolah didasarkan kepada teori konstruktivisme , seperti cara belajar yng menekankan peranan murid dalam membentuk pengetahuannya, sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu keaktifan murid tersebut dalam pembentukan pengetahuannya. Kurikulum pendidikan sains dan matematika mulai disesuaikan berdasarkan prinsip konstruktivisme.
Akan tetapi, ada sbagian orang yang salah mengertikan konstruktivistik dalam pembelajaran matematika atau masih belum mengerti tentang konstruktivistik dalam pembelajaran secara umum.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan :
a. Apa yang dimaksud Konstruktivisme ?
b. Bagaimana penerapan konsaep konstruktivisme dalam pembelajaran matematika ?
c. Bagaimana implikasi konstruktivisme dalam proses belajar mengajar ?

C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari Konstruktivisme.
2. Untuk memahami penerapan konsep konstruktivisme dalam proses belajar mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konstruktivisme
1. Pengertian
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan kata lain, konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang secara singkat menjelaskan bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi (bentukan) seseorang. Orang membentuk pengetahuanya lewat interaksi dengan lingkunganya.
2. Asal-Usul Konstruktivisme
Menurut von glasersfeld (1988) pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget namun bila di telusuri lebih jauh sebenarnya sudah di mulai Giambatissta Vico, seorang epistomologi dari Italia.
Pada tahun 1710 Viso dalam De Antiquissima Italorum Sapientia, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “ Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. “ dia menjelaskan bahwa “ mengetahui “ berarti “ mengetahui bagaimana membuat sesuatu “ ini berarti bahwa seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu menurut Vico hanya tuhan sajalah yang mengerti alam raya ini karena hanya dia yang tau bagaimana bagaimana membuatnya dan dari apa Ia membuatnya. Sementara itu orang hanya dapat mengetahui sesuatu yang telah di konstruksikannya.
Berdasarkan identifikasi “ mengetahui sesuatu “ dengan “ membuat sesuatu “, Vico mengatakan bahwa matematika adalah cabang pengetahuan yang paling tinggi. Alasannya dalam matematika orang menciptakan dalam pikirannya semua unsur dan aturan-aturan yang secara lengkap di pakai untuk mengerti matematika. Orang sendirilah yang menciptakan sehingga orang dapat mengerti secara penuh.
3. Macam-macam konstruktivisme
Von Glasersfeld membedakan konstruktivisme menjadi tiga macam :
1) Konstruktivisme radikal
Konstruktivisme radikal berpegang bahwa kita hanya dapat mengetahui apa yang di bentuk atau yang di konstruksioleh pikiran kita. Bentukan itu harus “ jalan “ dan tidak harus selalu merupakan representasi dunia nyata.
Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka tidak dapat di transfer kepada penerima yang pasif. penerima itu sendiri harus mengkonstruksi pengetahuan itu dalam pandangan konstruktivisme radikal sebenarnya tidak ada konstruksi social, dimana pengetahuan itu dikonstruksikan bersama, karena masing-masing orang harus menyimpulkan sendiri makna terakhir.
2) Realisme hipotesis
Menurut realism hipotesis, pengetahuan ilmiah kita di pandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati, yang dekat dangan realitas.
3) Konstruktivisme biasa
Aliran ini tidak mengambil semua konsekuensi konstruktivisme. Menurut aliran ini, pengetahuan kita merupakan gambaran dari realitas itu. Pengetahuan kita di pandang sebagai suatu gambaran yang di bentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.

B. Teori Belajar Piaget dan Pandangan Konstruktivisme
Teori belajar atau teori perkembangan mental piaget biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar yang dikemukakan oleh piaget tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dengan cirri tertentu dalam mengkonstruksi pengetahuan. Misalnya pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerak atau perbuatan.dalam kaitannya dengan teori belajar konstruktivisme, piaget yang di kenal sebagai konstruktivis pertama.
Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Dia juga menegaskan bahwa pengetahuan di bangun dalam pikiran anak. Selanjutnya, timbul pertanyaan bagaimanakah cara anak membangun pengetahuan tersebut?, lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, akn tetapi melalui tindakan. Perkembangan kognitif anak bahkan bergantung kepada seberapa jauh mereka aktif memanipulsi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Akomodasi dapat juga diartikan sebagai prose mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan tersebut. Pandangan dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir, yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran seseorang dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilinya. Dalam hal ini, belajar merupakan proses aktif untik mengembangkan schemata sehingga pengetahuan terkait. Belajar merupakan proses membangun atau mengkonstruksi pemahaman sesuai dengan kemampuan yang dimiliki seseorang. Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktifitas yang berlangsung secara interaktif antara factor intern pada diri pembelajar dengan factor extern atau lingkungan sehingga melahirkan suatu perubahan tingkah laku.
Sedangkan pengetahuan fisis adalah konkrit. Tetapi pengetahuan logis dan matematis itu diabstraksi dari apa? Menurut Piaget ada dua kemungkinan abstrksi sebagai berikut :
1) Abstraksi yang berdasarkan pada objek itu sendiri. Dalam abstraksi ini, orang itu menemukan pengertian dari sifat-sifat objek itu sendiri secara langsung. Pengetahuan kita langsung merupakan abstraksi dari objek itu. Inilah pengetahuan eksperimental atau empiris. Abstraksi ini disebut abstraksi sederhana.
2) Abstraksi yang didasarkan pada koordinasi, relasi, operaasi, penggunaan yang tidak langsung keluar dari sifa-sifat objek itu. Di sini abstraksi di tarik tidak dari objek itu sendiri, tetapi dar tindakan terhadap objek itu. Inilah inilah abstraksi logis dan matematis. Misalnya, berhadapan dengan 7 kelereng, seorang anak menghitung kelereng itu sampai tujuh. Ia menjajarkannya dan menghitung tetap sama 7. Ia meletakkan kelereng-kelereng di kaleng, di hitung lagi hasilnya tetap 7. Ia mengubah-ubah susunan kelereng dan di hitung tetap 7. Anak itu menemukan prinsip komlatif bahwa jumlah kelereng tetap sama meski susunannya di ubah-ubah. Ia juga menemukan pengertian tentang angka 7. Sifat tersebut tidak terdapat pada kelereng, tetapi pada aksi terhadap kelereng. Pengetahuan ini adalah pengetahuan matematis bukan fisis. Abstraksi kedua ini disebut abstraksi reflekttif.
Bagi Piaget semua pengetahuan adalah suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan / tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah itu berevolusi, berubah dari waktu-waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis, dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorgansasi yang terus menerus (1970). Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada diluar tetapi ada dalam diri seseorang yang membentuknya.
Piaget membedakan adanya tiga macam pengetahuan : (1) pengetahuan Fisis, (2) matematis-logis, (3) social. Masing-masing pengetahuan itu membutuhkan tindakan/ kegiatan seseorang, tetapi dengan berbeda alasannya.
1) Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar, kekasaran, berat, serta bagaimana objek-objek itu berinteraksi satu dengan yang lain.anak memperoleh pengetahuan fisis tentang suatu objek dengan mengerjakan atau bertindak terhadap objek itu melalui indranya.pengetahuan fisis ini didapat dari abstraksi langsung akan suatu objek.
2) Pengetahuan matematis-logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman dengan suatu objek atau kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasarkan koordinasi, relasi ataupun penggunaan objek. Pengetahuan matematis-logis dapat berkembang hanya bila si anak bertindak terhadap benda itu. Tetapi peran dari tindakan dan benda itu berbeda. Anak itu membentuk/ menciptakan pengetahuan matematis logis karena pengetahuan itu tidak ada dalam objek sendiri seperti pengetahuan fisis. Pengetahuan itu harus dibentuk dari perbuatan berpikir si anak terhadap benda itu. Benda disini hanya menjadi medium untuk membiarkan konstruksi itu terjadi.
3) Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan social yang secara bersama menyetujui sesuatu. Contoh pengetahuan ini ialah aturan, hokum, moral, nilai, system bahasa, dan lain-lain. Pengetahuan social tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain.

C. Teori Belajar Vygotsky
Disini Vygotsky lebih memfokuskan perhatian kepada hubungan dialektif antara individu dan masyarakat dalam pembentukan pengetahuan tersebut dia memperhatikan akibat interaksi social, terlebih bahasa pada proses belajar anak menurut Vygotsky belajar merupakan suatu perkembangan pengertian. Dia membedakan adanya dua pengertian, yang spontan dan yang ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian yang didapatkan dari pengalaman anak sehari-hari. Pengertian ilmiah adalah pengertian yang didapat dari kelas. Pengertian ini adalah pengertian formal yang terdefinisikan secara logis dalam suatu system yang lebih luas. Dalam proses belajar terjadi perkembangan dari pengertian yang spontan ke yang lebih ilmiah.
Menurut Vygotsky pengertian ilmiah itu tidak dating dalam bentuk yang jadi pada seorang anak. Pengertian itu mengalami perkembangan. Ini terkantung pada tingkat kemampuan anak untuk menangkap suatu model pengertian yang lebih ilmiah.
Vygotsky menggunakan istilah “ zo-ped “ suatu wilayah tempat bertemu antara pengertian spontan anak dengan pengertian sistematis logis orang dewasa. Wilayah ini berbeda dari setiap anak dan ini menunjukkan kemampuan anak dalam menangkap logika dan pengertian ilmiah.Itulah sebabnya Vygotsky menekankan pentingnya interaksi social dengan orang lain. Terlebih yang punya pengetahuan lebih baik dan system yang secara cultural telah berkembang dengan baik dengan diilhami dengan karya Vygotsky social culturalisme lebih menekankan praktek-praktek cultural dan social dalam lingkungan pelajar. Menurut para sosiokulturalis, aktifitas mengerti selalu dipengaruhi oleh partisipasi seseorang dalam praktek-praktek social dan cultural yang ada (situasi sekolah, masyarakat, teman-teman, dan lain-lain).

D. Implikasi Konstruktivisme Terhadap Proses Belajar
Menurut kaum konstrukvis, belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti mentah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Proses tersebut antara lain bercirikan sebagai berikut :
1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
2. Konstruksi arti itu adalah proses yang terus-menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidak seimbangan (disequilibrum) adalah situasi yang baik unyuk memacu belajar.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
6. Hasil belajar seseorang tergantung padaapa yang telah diketahui si pelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.

E. Implikasi Konstruktivisme Terhadap Proses Mengajar
Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahhuan dari guru ke murid,melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan,membuat makna, mencari kejelasan,bersikap kritis, dan mengadakan justivikasi. Jadi,mengajar adalah suatubentuk belajar sendiri.
Berpikir yang baik adalah lebih penting dari pada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang sedang dipelajari.seseorang yang mempunyai cara berpikir yang baik, dalam arti bahwa cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain. Sementara itu, seoarang pelajar yang sekadar menemukan jawaban benar belum pasti dapat memecahkan persoalan yang baru karena mungkin ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu.mengajar, dalam konteks ini adalah membantu seseorangberpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri.
E.1. Fungsi dan Peran Pengajar atau Guru.
Menurut prinsip konstruktivis, seorang pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar murid belajar dengan baik. Tekanan ada pada siswa yang belajar dan bukan pada disiplin ataupun guru yang mengajar. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sebagai berikut:
1) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian.karena itu, jelas member kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.
2) Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan murid dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Menyediakn sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif.
3) Memonitor, mengevaluasi,dan menunjukkan apakah pemikiran si murid jalan atau tidak.guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan murid itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yng berkaitan serta membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulannya.
Agar peran dan tugas tersebut berjalan dengan optimal, diperlukan beberapa kegiatan yang perlu dikerjakan dan juga beberapa pemikiran yang perlu disadari oleh pengajar:
1) Guru perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang mereka kethui dan pikirkan.
2) Tujuan dan apa yang akan dibuat dikelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa sungguh terlibat.
3) Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
4) Idperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjusng dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar.
5) Guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa.
Guru yang konstruktivis tidak pernah akan membenarkan ajarannya dengan mengklaim bahwa “ ini satu-satunya yang benar “. Didalam matematika mereka dapat menunjukkan bahwa cara tertentu diturunkan dari operasi tertentu.
E.2. Penguasaan Bahan
Peran guru sangat menuntut penguasaan bahan yang luas dan mendalam guru perlu mempunyai pandangan yang sangat luas mengenai pengetahuan tentang bahan yang akan diajarkan. Pengatahuan yang luas dan mendalam memungkinkan seorang guru menerima pandangan yang berbeda dari murid juga memungkinkan menunjukkan apakah gagasan itu jalan atau tidak. Penguasaan bahan memungkinkan seorang guru mengerti macam-macam jalan dan model untuk sampai pada suatu pemecahan persoalan tanpa terpaku pada satu model.
E.3. Strategi Mengajar
Tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkrit maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi murid. Oleh karena itu, tidak ada suatu srtategi mengajar yang stu-satunya yang dapat digunakan di manapun dan dalam situasi apapun. Strategi yang disusun selalu hanya menjadi tawaran dan saran, bukan suatu menu yang sudah jadi. Setiap guru yang baik akan memperkembangkan caranya sendiri. Mengajar adalah suatu seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi.
Beberapa prinsip konstruktivisme piaget yang perlu diperhatikan dalam mengajar matematika:
1) Struktur psikologis harus di kembangkan dulu sebelum persoalan bilangan diperkenalkan.
2) Struktur psikologis harus dikembangkan dulu sebelum symbol formal diajarkan.simbol adalah bahasa matematis.
3) Murid harus mendapat kesempatan untuk menemukan (membentuk) relasi atematis sendiri, jangaan hanya dihadapkan kepada pemikiran orang dewasa yang sudah jadi.
4) Suasana berpikir harus diciptakan. Sering pengajaran matematika hanya mentransfer apa yang dipunyai guru kepada murid dalam bentuk pelimpahan fakta matematis dan prosedur perhitungan kepada murid sehingga murid menjadi pasif dan hanya menghafal belaka.
E.4 Hubungan Guru dan Murid
Dalam aliran konstruktivisme, guru bukanlah seseorang yang mahatahu dan murid bukanlah yang belum tahu dank arena itu harus diberitahu. Dalam proses belajar murid aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya. Dalam arti inilah hubungan guru dan murid lebih sebagai mitra yang bersama-sama membangun pengetahuan.
F. Peran Konstruktivisme Secara umum
Prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip itu berperan sebagai refrensi dan alat refleksi kritis terhadap praktek, pembaruan, dan perencanaan pendidikan sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang sering di ambil dari konstruktivisme antara lain : (1) pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif, (2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, (3) mengajar adalah membantu siswa belajar, (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir, (5) kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan (6) guru adalah fasilitator. Prinsip tersebut banyak diambil untuk membuat perencanaan proses belajar-mengajar yang sesuai, pembaruan kurikulum, perencanaan program persiapan guru, dan untuk mengevaluasi praktek belajar-mengajar yang sudah berjalan.
Sebagai refrensi, sekelompok guru mengambil prinsip konstruktivisme untuk menyusun metode mengajar yang lebih manekanakan keaktifan siswa baik dalam belajar sendiri maupun bersama dalam kelompok. Guru-guru mencari cara untuk lebih mengerti apa yang dipikirkan dan dialami siswa dalam proses belajar. Mereka memikirkan beberapa kegiatan dan aktivitas yang dapat merangsang murid berpikir. Interaksi antar siswa di kelas dihidupkan, siswa diberi kebebasan mengungkapkan gagasan dan pemikiran mereka.



BAB III
KESIMPULAN

1) Konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi mereka dengan objek, fenomen, pengalaman dan lingkungan mereka. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang.
2) Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Dalam pembentukan pengetahuan, Piaget membedakan tiga macam pengetahuan: Fisis, Matematis-logis, dan Sosial.
3) Konstruktivisme psikologis personal (Teori Vygotsky) lebih menekankan bahwa pribadi seseorang sendirilah yang bisa mengkostruksikan pengetahuan.
4) Belajar adalah proses Mengkonstruksipengetahuan dari abstraksi pengalaman baik alami maupun manusiawi. Proses Konstruksi itu dilakukan secara pribadi dan social. Proses ini adalah proses yang aktif. Beberapa factor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dipunyai, kemampuan kognitif dan linggkingan berpengaruh terhadap hasil belajar.
5) Mengajar adalah proses membantu seseorang ontuk membentuk pengetahuanya sendiri. Mengajar bukanlah mentransfer pengetahuan dari orang yang sudah tahu (Guru) kepada yang elum tahu (Murid), melainkan membantu seseorang agar dapat mengkonstruksi sondiri pengetahuanya lewat kegiatanya terhadap fenomen dan objek yang ingin diketahui.
6) Teori Konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Teori tersebut secara umum digunakan sebagai referensi dan evaluasi proses belajar-mengajar dan juga pembaruan kurikulum sains dan matematika. Bahkan, sekarang mulai dicoba untuk menerapkan prinsip-prinsip Konstruktivisme dalam pembaruan pendidikan guru.


DAFTAR PUSTAKA

Suparno, Paul.1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Penada Media Group
www. Rmakoe. Wordpress. Com
www. Warna Dunia. Com
www. Bpgupg. Go. Id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar